Akibatnyakaum sufi makin jauh dari para fuqaha maupun mutakallimin serta tenggelam dalam alam emosi spiritual yang berlebihan dan banyak diantara mereka yang mengabaikan batas-batas syariah. Sedangkan para fuqaha dan mutakallimin hanya sibuk dalam rumusan fiqh dan ilmu kalam yang kering dari nuansa spiritual.15 12 Ibid., hlm. 120. 13 Ibid
IstilahThoriqoh berasal dari kata At-Tarik yang berarti jalan, keadaan, kepada hakikat. Pengertian Thoriqoh Menurut para ahli: 1. Harun Nasution Taqwa e. Qanaah (Menerima dengan senang hati segala sesuatu yang dianugerahkan oleh Allah SWT) seorang ulama dan sufi besar. Menurut silsilahnya, ia masih keturunan Hasan, putra Ali bin Abi
Pertama Al-Khaufu Minal Jalil (taqwa itu akan menjadikan seseorang merasa takut kepada Allah swt yang memiliki sifat Jalal). Dengan adanya rasa takut kita kepada Allah yang mempunyai sifat Jalal ini menjadikan kita untuk berpikir kembali atau mempertimbangkan terlebih dahulu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah Ta’ala.
KonsepIlmu Pengetahuan, Tekhnologi, dan Seni (IPTEKS) Ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasikan, diorganisasi, disistimatisasi, dan diinterpertasi, menghasilkan kebenaran obyektif, sudah diuji kebenarannya, dan dapat diuji ulang secara ilmiah (International Webster's Doctionary). Secara etimologis, kata ilmu berarti kejelasan, karena
Syariat dan hakekat adalah laksana dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Tujuan syari’at adalah pencapaian terhadap hakekat. Dan kahekat tidak akan pernah diraih kecuali dengan jalan syari’at.Sebagaian ulama membuat gambaran kesatuan perkara-perkara ini dalam tiga perumpamaan. Pertama; Syari’at diibaratkan sebagai perahu atau sampan.
Seringkalikita mendengar istilah taqwa’ begitu seringnya sehingga tidak terpikir oleh kita apakah sejatinya makna taqwa. Seolah-olah ketika telinga kita menangkap kata ‘taqwa’ maka sudah menjadi mafhum bahwa yang dimaksudkan adalah menjalankan berbagai amal shaleh. Padahal tidak selamanya demikian.
mendorongpara sufi untuk memusatkan perhatiannya dalam beribadah kepada khaliqnya, yang dibarengi dengan kehidupan asketisme ( zuhud) dengan tujuan utama pembinaan moral. Berangkat dari prinsip al-bidayat di atas, tasawuf didefinisikan sebagai upaya memahami hakekat Allah, seraya melupakan kehidupan duniawi.
Rabiah Al-‘adawiyyah adalah seorang wanita shalehah yang bertaqwa kepada Allah, ia benar-benar telah menggapai martabat tertinggi dalam hal taqwa, seorang ahli sufi yang sangat terkenal pada masanya, siang dan malamnya di habiskan
afBZuI5. Sayyidina Ali Karromallahu wajhah menerangkan bahwa sejatinya taqwa tidaklah sekedar istitsalul awamir waj tinabun nawahi, tetapi taqwa itu adalah الØÙˆÙ من الجليل والعمل بالتنزيل والقناعة بالقليل والإستعداد ليوم الرØÙŠÙ„ takut kepada Allah yang bersifat Jalal, dan beramal dengan dasar al-Qur’an at-tanzil dan menerima qona’ah terhadap yang sedikit, dan bersiap-siap menghadapi hari perlihan hari akhir. إنَ٠الْØÙŽÙ…ْدَ Ù„ÙÙ„ÙŽÙÙ‡Ù Ù†ÙŽØÙ’مَدÙه٠وَنَسْتَعÙيْنÙه٠وَنَسْتَغْÙÙØ±Ùهْ وَنَعÙÙˆØ°Ù Ø¨ÙØ§Ù„له٠مÙنْ Ø´ÙØ±Ùوْر٠أَنْÙÙØ³Ùنَا ÙˆÙŽÙ…Ùنْ سَيÙÙØ¦ÙŽØ§ØªÙ أَعْمَالÙنَا، مَنْ يَهْدÙه٠الله٠Ùَلاَ Ù…ÙØ¶Ùلَ٠لَه٠وَمَنْ ÙŠÙØ¶Ù’Ù„Ùلْه٠Ùَلاَ هَادÙÙŠÙŽ Ù„ÙŽÙ‡Ù. وَأَشْهَد٠أَنْ لاَ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ Ø¥Ùلاَ٠الله٠وَØÙ’دَه٠لاَ شَرÙيْكَ Ù„ÙŽÙ‡Ù ÙˆÙŽØ£ÙŽØ´Ù’Ù‡ÙŽØ¯Ù Ø£ÙŽÙ†ÙŽÙ Ù…ÙØÙŽÙ…ÙŽÙØ¯Ù‹Ø§ عَبْدÙه٠وَرَسÙوْلÙÙ‡Ù. اَللَÙÙ‡Ùمَ٠صَلÙ٠وَسَلÙÙمْ عَلَى نَبÙÙŠÙÙنَا Ù…ÙØÙŽÙ…ÙŽÙØ¯Ù وَعَلَى آلÙه٠وَصَØÙ’بÙه٠وَمَنْ ØªÙŽØ¨ÙØ¹ÙŽÙ‡Ùمْ Ø¨ÙØ¥ÙØÙ’سَان٠إÙÙ„ÙŽÙ‰ يَوْم٠الْقÙيَامَةÙ. يَا Ø£ÙŽÙŠÙÙهَا Ø§Ù„Ù†ÙŽÙØ§Ø³Ù Ø£ÙوْصÙيْكÙمْ ÙˆÙŽØ¥ÙÙŠÙŽÙØ§ÙŠÙŽ Ø¨ÙØªÙŽÙ‚ْوَى الله٠Ùَقَدْ Ùَازَ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØªÙŽÙÙ‚Ùوْنَ. قَالَ تَعَالَى يَا Ø£ÙŽÙŠÙÙهاَ Ø§Ù„ÙŽÙØ°Ùيْنَ ءَامَنÙوا اتَÙÙ‚Ùوا اللهَ ØÙŽÙ‚َ٠تÙقَاتÙه٠وَلاَ تَمÙوْتÙنَ٠إÙلاَ٠وَأَنتÙمْ Ù…ÙÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùوْنَ. قَالَ تَعَالَى يَا Ø£ÙŽÙŠÙÙهَا Ø§Ù„Ù†ÙŽÙØ§Ø³Ù اتَÙÙ‚Ùوْا رَبَÙÙƒÙÙ…Ù Ø§Ù„ÙŽÙØ°Ùيْ ØÙŽÙ„ÙŽÙ‚ÙŽÙƒÙمْ Ù…ÙÙنْ Ù†ÙŽÙْس٠وَاØÙدَة٠وَØÙŽÙ„ÙŽÙ‚ÙŽ Ù…Ùنْهَا زَوْجَهَا وَبَØÙŽÙ Ù…ÙنْهÙمَا Ø±ÙØ¬ÙŽØ§Ù„اً ÙƒÙŽØÙيْرًا ÙˆÙŽÙ†ÙØ³ÙŽØ¢Ø¡Ù‹ وَاتَÙÙ‚Ùوا اللهَ Ø§Ù„ÙŽÙØ°Ùيْ تَسَآءَلÙوْنَ بÙه٠وَاْلأَرْØÙŽØ§Ù…ÙŽ Ø¥Ùنَ٠اللهَ كَانَ عَلَيْكÙمْ رَقÙيْبًا. يَا Ø£ÙŽÙŠÙÙهَا Ø§Ù„ÙŽÙØ°Ùيْنَ ءَامَنÙوا اتَÙÙ‚Ùوا اللهَ ÙˆÙŽÙ‚ÙوْلÙوْا قَوْلاً سَدÙيْدًا. ÙŠÙØµÙ’Ù„ÙØÙ’ Ù„ÙŽÙƒÙمْ أَعْمَالَكÙمْ وَيَغْÙÙØ±Ù’ Ù„ÙŽÙƒÙمْ ذÙÙ†ÙوْبَكÙمْ وَمَنْ ÙŠÙØÙØ¹Ù اللهَ وَرَسÙوْلَه٠Ùَقَدْ Ùَازَ Ùَوْزًا عَظÙيْمًا. Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah Marilah bersama-sama kita saling menasehati akan pentingnya meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. sesungguhnya ketaqwaan merupakan kunci menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah Seringkali kita mendengar istilah taqwa’ begitu seringnya sehingga tidak terpikir oleh kita apakah sejatinya makna taqwa. Seolah-olah ketika telinga kita menangkap kata taqwa’ maka sudah menjadi mafhum bahwa yang dimaksudkan adalah menjalankan berbagai amal shaleh. Padahal tidak selamanya demikian. Memang, sebagain ulama mempermudah pemahaman taqwa dengan menjelaskan bahwa taqwa adalah ’imtitsalul awamiri waj tinabun nawahi’ mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. kalimat sederhana yang terkesan sangat global. Sehingga mudah diingat namun susah dicerna dan dijabarkan, mungkin karena terlalu singkat. Oleh karenanya dalam kesempatan ini khatib ingin sekali menerangkan makna taqwa sebagaimana diterangkan oleh Sayyidina Ali Karromallahu wajhah yang dikutip dalam kitab al-Manhajus Sawi, oleh al-allamah al-Muhaqqiq al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith. Sayyidina Ali membeberkan kepada kita makna taqwa yang terbentang dalam empat hal yaitu; الØÙˆÙ من الجليل والعمل بالتنزيل والقناعة بالقليل والإستعداد ليوم الرØÙŠÙ„ Bahwa taqwa adalah takut kepada Allah yang bersifat Jalal, dan beramal dengan dasar al-Qur’an at-tanzil dan menerima qona’ah terhadap yang sedikit, dan bersiap-siap menghadapi hari akhir perlihan hari akhir. Jama’ah jum’ah yang berbahagia Pertama; Al-khaufu minal Jalil artinya bahwa taqwa itu akan menjadikan seseorang merasa takut kepada Allah swt yang memiliki sifat Jalal. Takut melanggar berbagai aturan dan ketentuan-Nya. Sehingga apapun yang akan diperbuatnya selalu dipertimbangkan terlebih dahulu. Tangan tidak akan digunakan untuk memungut benda yang bukan miliknya tanpa izin. Kaki tidak digunakan untuk berjalan ke aarah yang salah, demikian juga mata dan telinga tidak akan difungsikan sebagai alat mendurhakai-Nya. Maka taqwa dalam bingkai Al-khaufu minal Jalil, lebih bernuansa penghindaran dan pencegahan’ dari pada pelaksanaan’. Karena sesungguhnya ketakutan’ itu akan menyebabkan seseorang enggan melakukan tindak kesalahan. Seperti halnya seorang anak kecil yang takut bermain air hujan karena takut kepada orang tuanya. Kedua; wal amalu bit tanzil, menghindari sesuatu karena takut kesalahan dalam konsep taqwa tidak lantas menjadikan seseorang tidak berbuat apa-apa, karena hal taqwa juga menuntut tindakan baik yang berdasar pada al-Qur’an yang diturunkan at-tanzil sebagai pedoman hidup dan dasar bersyariat bagi kaum muslim. Maka segala amal orang yang bertaqwa berdasar pada al-Qur’an, dan mereka tidak akan melakukan sesuatu secara serampangan tanpa adanya dalil yang mendasarinya baik al-Qur’an, Hadits, Ijam’ maupun qiyas. Jama’ah jum’ah yang Dimuliakan Allah Ketiga; al-Qana’atu bil Qalil, artinya orang yang bertaqwa akan selalu merasa cukup dengan rizki yang sedikit, sesungguhnya orang yang memiliki rizqi yang sedikit dan merasa cukup dengan rizqi tesebut adalah bukti sekaligus tanda bahwa orang itu dicintai oleh Allah swt. Sebagaimana yang disabdakan rasulullah saw. إن الله إذا Ø£ØØ¨ عبدا رزقه ÙƒÙØ§Ùا Bahwa jika Allah mencintai seorang hamba ia akan memberikan rizki yang pas-pasan kepadanya. Artinya pas-pasan adalah tidak memiliki kelebihan selain untuk menutupi kebutuhan pokoknya, inilah tanda orang taqwa yang dicintai Allah swt. Oleh karena itu dalam kenyataannya tidak seorangpun hamba yang hidup pas-pasan bertindak secara berlebihan, berhura-hura dan doyan belanja. Karena berbagai macam keglamouran hidup itu sangat dibenci oleh Allah swt. menyebabkan manusia melupakan Tuhannya. Itulah bukti hamba itu dicintai oleh Allah. Berbeda sekali dengan seorang yang memiliki limpahan harta yang berlebih. Maka di kala waktu luang setan akan segera menghampirinya dan membujuk untuk berbuat hura-hura, jalan-jalan berekreasi ke tepi pantai atau santai santai di menikmati keremangan malam atau malah mencari kesibukan diluar pengetahuan pasangannya. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang sepertin ini. Maka menjadi amat penting memeperhatikan sabda Rasulullah saw selanjutnya yang berbunyi ØÙˆØ¨Ù‰ لمن هدي الإسلام وكان رزقه ÙƒÙØ§Ùا ورضي به Beruntung sekali orang yang mendapatkan petunjukIslam, yang mempunyai rizqi pas-pasan dan rela dengan rizqi yang pas-pasan itu. Ridhda atau rela dengan kesedikitan itu menjadi satu sarat tersendiri. Sebagai pertandanya orang tersebut tidak pernah berkeluh-kesah akan keadaanya. Banyak sekali hamba yang merasa cukup dengan rizqi yang diterimanya, saying sekali ia sering keluhan-keluhan. Sesungguhnya hal yang demikian itu mengurangi ketaqwaan. Dan keempat, al-isti’dadu li yaumir rakhil, adalah bersiap-siap menghadapi hari perpindahan. Perpindahan dari alam dunia ke alam kubur lalu ea lam akhirat. Artinya segala amal orang yang bertaqwa senantiasa dalam ranga menyiapkan diri akan hadirnya hari kematian. yaitu hari keberangkatan dari alam dunia menuju alam akhirat. Oleh karena itu ketika Rasulullah ditanya “siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia di hadapan Allah?” beliau menjawab mereka adalah manusia yang Ø£ÙƒØØ±Ù‡Ù… ذكرا للموت وأشدهم إستعدادا له Manusia yang paling banyak mengingat kematian dan paling semangat mempersiapka diri menghadapinya. Ini juga merupakan tuntunan praktis bagi umat muslim meningkatkan ketaqwaannya, yaitu selalu mengingat kematian Karena, seorang yang mengingat kematian ia tidak akan mudah terjerumus dalam kubangan dosa. Demikianlah khotbah jum’ah kali ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. بَارَكَ الله٠لÙيْ ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙƒÙمْ ÙÙيْ Ø§Ù’Ù„Ù‚ÙØ±Ù’آن٠اْلعَظÙيْم٠وَنَÙَعَنÙÙŠ ÙˆÙŽØ¥ÙŠÙŽÙØ§ÙƒÙمْ ÙØ¨Ù…َا ÙÙيْه٠مÙÙ†ÙŽ اْلآياَت٠وَالذكْر ÙØ§Ù„Ù’ØÙŽÙƒÙيْم٠وَتَقَبَÙÙ„ÙŽ Ù…ÙÙ†ÙÙÙŠ ÙˆÙŽÙ…ÙنْكÙمْ تÙلاَوَتَه٠إنَÙÙ‡Ù Ù‡ÙÙˆÙŽ السَÙÙ…Ùيْع٠اْلعَلÙيْم٠Khutbah II اَلْØÙŽÙ…ْد٠لله٠عَلىَ Ø§ÙØÙ’Ø³ÙŽØ§Ù†Ùه٠وَالشÙÙكْر٠لَه٠عَلىَ تَوْÙÙيْقÙه٠وَاÙمْتÙنَانÙÙ‡Ù. وَاَشْهَد٠اَنْ لاَ اÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ اÙلاَ٠الله٠وَالله٠وَØÙ’دَه٠لاَ شَرÙيْكَ لَه٠وَاَشْهَد٠اَنَ٠سَيÙÙØ¯ÙŽÙ†ÙŽØ§ Ù…ÙØÙŽÙ…ÙŽÙØ¯Ù‹Ø§ عَبْدÙه٠وَرَسÙوْلÙÙ‡Ù Ø§Ù„Ø¯ÙŽÙØ§Ø¹ÙÙ‰ اÙلىَ Ø±ÙØ¶Ù’وَانÙÙ‡Ù. اللهÙمَ٠صَلÙ٠عَلَى سَيÙÙØ¯Ùنَا Ù…ÙØÙŽÙ…ÙŽÙØ¯Ù ÙˆÙØ¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ اَلÙه٠وَاَصْØÙŽØ§Ø¨Ùه٠وَسَلÙÙمْ تَسْلÙيْمًا ÙƒÙØÙŠÙ’Ø±Ù‹Ø§Ø§ÙŽÙ…ÙŽÙØ§ بَعْد٠Ùَياَ اَيÙÙهَا Ø§Ù„Ù†ÙŽÙØ§Ø³Ù Ø§ÙØªÙŽÙÙ‚Ùوااللهَ ÙÙيْمَا اَمَرَ وَانْتَهÙوْا Ø¹ÙŽÙ…ÙŽÙØ§ نَهَىوَاعْلَمÙوْا اَنَ٠الله٠اَمَرَكÙمْ Ø¨ÙØ§ÙŽÙ…ْر٠بَدَأَ ÙÙيْه٠بÙÙ†ÙŽÙْسÙÙ‡Ù ÙˆÙŽØÙŽÙ€Ù†ÙŽÙ‰ بÙمَلآ ئÙكَتÙه٠بÙÙ‚ÙØ¯Ù’سÙه٠وَقَالَ تَعاَلَى اÙنَ٠اللهَ وَمَلآ ئÙÙƒÙŽØªÙŽÙ‡Ù ÙŠÙØµÙŽÙ„ÙÙوْنَ عَلىَ Ø§Ù„Ù†ÙŽÙØ¨ÙÙ‰ يآ اَيÙÙهَا Ø§Ù„ÙŽÙØ°Ùيْنَ آمَنÙوْا صَلÙÙوْا عَلَيْه٠وَسَلÙÙÙ…Ùوْا تَسْلÙيْمًا. اللهÙمَ٠صَلÙ٠عَلَى سَيÙÙØ¯Ùنَا Ù…ÙØÙŽÙ…ÙŽÙØ¯Ù صَلَÙÙ‰ الله٠عَلَيْه٠وَسَلÙÙمْ وَعَلَى آل٠سَيÙÙØ¯Ùناَ Ù…ÙØÙŽÙ…ÙŽÙØ¯Ù وَعَلَى اَنْبÙيآئÙÙƒÙŽ ÙˆÙŽØ±ÙØ³ÙÙ„ÙÙƒÙŽ وَمَلآئÙكَة٠اْلمÙÙ‚ÙŽØ±ÙŽÙØ¨Ùيْنَ وَارْضَ اللÙÙ‡Ùمَ٠عَن٠اْلØÙÙ„ÙŽÙÙŽØ§Ø¡Ù Ø§Ù„Ø±ÙŽÙØ§Ø´ÙدÙيْنَ اَبÙÙ‰ بَكْرÙوَعÙÙ…ÙŽØ±ÙˆÙŽØ¹ÙØÙ’Ù…ÙŽØ§Ù† وَعَلÙÙ‰ وَعَنْ بَقÙÙŠÙŽÙØ©Ù Ø§Ù„ØµÙŽÙØÙŽØ§Ø¨ÙŽØ©Ù ÙˆÙŽØ§Ù„ØªÙŽÙØ§Ø¨ÙعÙيْنَ ÙˆÙŽØªÙŽØ§Ø¨ÙØ¹ÙÙŠ Ø§Ù„ØªÙŽÙØ§Ø¨ÙعÙيْنَ Ù„ÙŽÙ‡Ùمْ Ø¨ÙØ§ÙØÙ’سَان٠اÙلَىيَوْم٠الدÙÙيْن٠وَارْضَ Ø¹ÙŽÙ†ÙŽÙØ§ مَعَهÙمْ Ø¨ÙØ±ÙŽØÙ’Ù…ÙŽØªÙÙƒÙŽ يَا اَرْØÙŽÙ…ÙŽ Ø§Ù„Ø±ÙŽÙØ§ØÙÙ…ÙيْنَاَللهÙمَ٠اغْÙÙØ±Ù’ Ù„ÙÙ„Ù’Ù…ÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†Ùيْنَ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†ÙŽØ§ØªÙ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ù„Ùمَات٠اَلاَØÙ’يآء٠مÙنْهÙمْ وَاْلاَمْوَات٠اللهÙÙ…ÙŽÙ Ø§ÙŽØ¹ÙØ²ÙŽÙ Ø§Ù’Ù„Ø§ÙØ³Ù’لاَمَ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ وَأَذÙلَ٠الشÙÙØ±Ù’ÙƒÙŽ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØ´Ù’رÙÙƒÙيْنَ ÙˆÙŽØ§Ù†Ù’ØµÙØ±Ù’ Ø¹ÙØ¨ÙŽØ§Ø¯ÙŽÙƒÙŽ Ø§Ù’Ù„Ù…ÙÙˆÙŽØÙÙØ¯ÙÙŠÙŽÙØ©ÙŽ ÙˆÙŽØ§Ù†Ù’ØµÙØ±Ù’ مَنْ نَصَرَ الدÙÙيْنَ وَاØÙ’ذÙلْ مَنْ ØÙŽØ°ÙŽÙ„ÙŽ Ø§Ù’Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ ÙˆÙŽ دَمÙÙØ±Ù’ اَعْدَاءَالدÙÙيْن٠وَاعْل٠كَلÙمَاتÙÙƒÙŽ اÙÙ„ÙŽÙ‰ يَوْمَ الدÙÙيْنÙ. اللهÙمَ٠ادْÙَعْ Ø¹ÙŽÙ†ÙŽÙØ§ اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَÙلاَزÙÙ„ÙŽ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØÙŽÙ†ÙŽ وَسÙوْءَ اْلÙÙØªÙ’Ù†ÙŽØ©Ù ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØÙŽÙ†ÙŽ مَا ظَهَرَ Ù…Ùنْهَا وَمَا بَØÙŽÙ†ÙŽ Ø¹ÙŽÙ†Ù’ بَلَدÙنَا اÙنْدÙونÙيْسÙÙŠÙŽÙØ§ ØØ¢ØµÙŽÙةً ÙˆÙŽØ³ÙŽØ§Ø¦ÙØ±Ù اْلبÙÙ„Ù’Ø¯ÙŽØ§Ù†Ù Ø§Ù’Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ Ø¹Ø¢Ù…ÙŽÙØ©Ù‹ يَا رَبَ٠اْلعَالَمÙيْنَ. رَبَÙنَا آتÙناَ ÙÙÙ‰ الدÙÙنْيَا ØÙŽØ³ÙŽÙ†ÙŽØ©Ù‹ ÙˆÙŽÙÙÙ‰ اْلآØÙرَة٠ØÙŽØ³ÙŽÙ†ÙŽØ©Ù‹ ÙˆÙŽÙ‚Ùنَا عَذَابَ Ø§Ù„Ù†ÙŽÙØ§Ø±Ù. رَبَÙنَا ظَلَمْنَا اَنْÙÙØ³ÙŽÙ†ÙŽØ§ÙˆÙŽØ§Ùنْ لَمْ تَغْÙÙØ±Ù’ لَنَا وَتَرْØÙŽÙ…ْنَا Ù„ÙŽÙ†ÙŽÙƒÙوْنَنَ٠مÙÙ†ÙŽ اْلØÙŽØ§Ø³ÙرÙيْنَ. Ø¹ÙØ¨ÙŽØ§Ø¯ÙŽØ§Ù„له٠! اÙنَ٠اللهَ ÙŠÙŽØ£Ù’Ù…ÙØ±Ùنَا Ø¨ÙØ§Ù’Ù„Ø¹ÙŽØ¯Ù’Ù„Ù ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ø§ÙØÙ’Ø³ÙŽØ§Ù†Ù ÙˆÙŽØ¥Ùيْتآء٠ذÙÙ‰ Ø§Ù’Ù„Ù‚ÙØ±Ù’بىَ وَيَنْهَى عَن٠اْلÙÙŽØÙ’شآء٠وَاْلمÙنْكَر٠وَاْلبَغْي ÙŠÙŽØ¹ÙØ¸ÙÙƒÙمْ لَعَلَÙÙƒÙمْ ØªÙŽØ°ÙŽÙƒÙŽÙØ±Ùوْنَ ÙˆÙŽØ§Ø°Ù’ÙƒÙØ±Ùوااللهَ اْلعَظÙيْمَ ÙŠÙŽØ°Ù’ÙƒÙØ±Ù’ÙƒÙمْ ÙˆÙŽØ§Ø´Ù’ÙƒÙØ±Ùوْه٠عَلىَ Ù†ÙØ¹ÙŽÙ…ÙÙ‡Ù ÙŠÙŽØ²ÙØ¯Ù’ÙƒÙمْ وَلَذÙكْر٠الله٠اَكْبَرْ Redaktur Ulil Hadrawy
On retrouve dans le Coran un verset d’une importance majeure dans son évaluation de la valeur intrinsèque et de l’intégrité morale des êtres humains qu’ils soient hommes ou femmes. Il s’agit du verset suivant Coran 49 ;13 Ô vous les humains ! Nous vous avons créés d’un homme et d’une femme et Nous avons fait de vous des peuples et des tribus pour que vous vous entre –connaissiez. Le plus méritant d’entre vous auprès de Dieu, est le plus - pieux, fidèle, dévoué - atquakoum ».Notons, dès le départ, l’entrée en matière de ce verset où il est explicitement rappelé aux humains leur origine commune. Celle d’un homme et d’une femme. Et de cette même origine, s’est établi une humanité répartie en une multitude de peuples et de diversité de ces peuples fait souvent oublier l’origine commune et l’unité de la création. Cette diversité voulue par Dieu est sublimée dans ce verset où il est demandé à ces différents peuples justement de se connaître mutuellement afin de ne jamais oublier leur origine a créé tous ces peuples et ces nations avec leurs spécificités, leurs différences, leurs cultures, leurs modes de vie… A partir de l’unité de la création Dieu a justement créé la diversité comme une épreuve… Vivre la diversité, accepter l’Autre dans sa différence n’est-elle pas encore aujourd’hui vécue comme un défi à tous nos égocentrismes modernes ?L’incitation coranique faite à ces peuples de se connaître est une invitation à l’enrichissement mutuel à travers cette attitude humaine de l’ouverture sur l’Autre indépendamment de sa différence, de son ethnie ou de sa culture d’origine. La connaissance mutuelle dont parle le Coran consiste donc à enrichir l’expérience humaine, constamment, éternellement, par cet apport de l’Autre, en ce qu’il a de meilleur à offrir de sa spécificité à l’universel humain. Le plus méritant d’entre vous auprès de Dieu, est le plus dévoué atquakoum » …De cette diversité humaine, Dieu ne fait point de différence, entre tous ces êtres humains qu’Il a créé, nul ne peut prétendre à une considération particulière ou à une préférence quelconque de la part de Dieu…Il n’y a ni peuple élu, ni nation privilégiée… L’égalité de tous les êtres humains aux yeux du Créateur est absolue et elle transcende tous les particularisme, de race, d’ethnie, de couleur ou de sexe…Le seul mérite auprès de Dieu est celui que le Coran défini dans ce verset comme étant la Taqwa »…Mais que veut dire au juste la Taqwa » ? Étymologiquement , la Taqwa a un sens de prévention et de prophète l’a définie comme étant une qualité intériorisée dans le cœur. Dans un hadith connu il affirma en parlant de la Taqwa at- Taqwa est ici , at- Taqwa est ici » en faisant un signe de sa main vers son cœur[1].Omar Ibn al-Khattab, a demandé un jour à un compagnon, Oubay Ibn Kaab, de lui expliquer le sens de Taqwa ? Oubay a répondu Supposons que tu te retrouves un jour sur une route parsemée d’épines que ferais - tu ? ». Omar de répondre je retrousserais mes manches et je m’efforcerais d’éviter ces épines ! ouchamir wa ajtahid ». Ce à quoi Oubay a répondu Et bien la Taqwa c’est cela ! »[2] . Autrement dit, c’est l’effort fourni afin d’éviter les épines, autrement dit, les épreuves de la vie ».La Taqwa est souvent traduite par piété ». Dans la signification islamique traditionaliste la Taqwa a le plus souvent été enfermée dans le domaine stricte des Ibadates, autrement dit du culte, et de la morale individuelle. On l’identifie souvent d’ailleurs comme un comportement religieux caractéristique de ceux qui appartiennent à un mouvement mystique de retrait du monde. Toujours selon cette signification la Taqwa est synonyme de peur de Dieu, de crainte, voire comme certains l’ont appelée de crainte révérencielle ».Il est vrai que la Taqwa peut être assimilée à de la piété, à de la crainte, à la peur du Créateur, ceci étant un sentiment commun retrouvé dans le cœur des pratiquants et toutes les religions ont insisté sur ce lien entre la pratique du culte et la peur de la punition divine. Ce sont là des sentiments tout à fait humains et finalement spontanés, inhérents à la nature humaine ou Fitra, qui n’est autre que cette empreinte de la présence de Dieu, enfouie dans le plus profond de nos âmes la Taqwa ne peut être circonscrite à la piété et la peur…En fait, la Taqwa a deux dimensions essentielles, l’une intérieure, dans le cœur des croyants comme l’a bien défini le prophète, mais aussi une dimension extérieure, qui consiste justement a extérioriser cette qualité en des actes et en un comportement reflétant cette vertu du cœur. En d’autres termes et comme l’a bien décrit Oubay, quand il en décrivait le sens au Calife Omar, c’est avant tout l’effort personnel entrepris par chaque homme et chaque femme afin d’affronter les défis et les épreuves de la vie!La Taqwa doit d’abord être comprise et vécue comme étant une valeur spirituelle d’amour, de respect du Créateur mais qui doit être mise en pratique dans la vie de tous les jours. C’est l’ouverture constante de l’esprit vers le s’approcher par des actes de vertu à Dieu et être dans cette proximité intime et constante avec le Créateur de ces mondes. C’est avoir la conscience d’être avec Dieu toujours et partout à travers son cœur et ses ainsi que l’on constate comment le Coran insiste sur cette égalité de tous les êtres humains dont le seul critère de préférence pris en compte par Dieu est celui d’une Taqwa conçue dans son sens pluriel et ouvert. Et non pas, comme l’ont compris certains, dans un sens restrictif de dévouement passif, fataliste et vain. La Taqwa, certes, c'est être dévoué au Créateur et à ses injonctions mais c’est un dévouement qui sait rester actif, vivant, créatif, et qui ne peut se réaliser que dans l’intelligence de la foi et de la dans ces sens que la Taqwa, doit être comprise et vécue, comme une profonde exigence de liberté », puisque adhérer à la foi et à la transcendance c’est finalement délivrer sa raison » des futilités matérielles et des passions négatives et s’élever vers la liberté infinie. L’homme pieux se sent profondément libre !...Rousseau n’avait il pas affirmé à juste titre Rendez moi libre en me protégeant contre mes passions qui me font violence, empêchez moi d’être leur esclave et forcez moi d’être mon propre maitre en n’obéissant point à mes sens mais à ma raison ».[3]Les hommes et les femmes doivent rivaliser dans cette Taqwa afin d’avoir les mérites du Créateur. Elle n’est finalement que cette spiritualité qui devient par l’effort et le mérite, une force libératrice, qui délivre les croyants et croyantes des chaines du matérialisme à outrance et qui les élève très haut vers les cieux de la meilleur d’entre toutes les femmes et tous les hommes devant Dieu c’est donc celui et celle qui saura se libérer de ses passions, de son Nafss ou égo et qui fera le plus d’efforts pour se dévouer et pour accomplir le plus grand nombre de belles actions dans cette vie, pour les autres, tous les autres, quelles que soient leur origine, couleur ou race. C’est là, l’illustration des plus belles égalités entre hommes et femmes, égalité qui se fait dans la liberté, l’engagement du cœur et dans le dévouement de l’ LamrabetAvril 2013[1] Hadith transmit par le compagnon Abderrahmane Ibn Sakhr , ouvrage al mashikha al baghdadia » Abi tahar assalafy, vol 23.[2] Tafssir Ibn Kathir du verset 2 , sourate 2.[3] Islam et modernité », Abdellah Laroui, Centre culturel Arabe,3me édition, 2009, Casablanca, p 58.